Jumat, 08 Mei 2015

HAL PENTING

© COPYLEFT almanhaj.or.id
Seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan tetap men

Niat Untuk Berbuat Baik Mendapat Pahala

Niat Untuk Berbuat Baik Mendapat Pahala

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَـا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ، قَالَ : «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْـحَسَنَاتِ وَالسَّيِّـئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِـهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهُ اللّـهُ عَزَّوَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ؛ كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَـا فَعَمِلَهَا ، كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً ». رَوَاهُ الْـبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ فِـيْ صَحِيْحَيْهِمَـا بِهَذِهِ الْـحُرُوْفِ

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka]

TAKHRIJ HADITS :
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 6491), Muslim (no. 131 [207]) dan Ahmad (I/310, 361).

Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas banyak sekali. Di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Allâh Azza wa Jalla berfirman kepada para malaikat :

إِذَا أَرَادَ عَبْدِيْ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً ؛ فَلَا تَكْتُبُوْهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَـا ، فَإِذَا عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا بِمِثْلِهَا ، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِـيْ فَاكْتُبُوْهَا لَهُ حَسَنَةً ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ حَسَنَةً ؛ فَإِذَا عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِـهَا إِلَى سَبْعِمِائَةٍ

Jika hamba-Ku berniat melakukan kesalahan, maka janganlah kalian menulis kesalahan itu sampai ia (benar-benar) mengerjakannya. Jika ia sudah mengerjakannya, maka tulislah sesuai dengan perbuatannya. Jika ia meninggalkan kesalahan tersebut karena Aku, maka tulislah untuknya satu kebaikan. Jika ia ingin mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, tulislah sebagai kebaikan untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, tulislah baginya sepuluh kali kebaikannya itu hingga tujuh ratus (kebaikan).’”[1]

Dalam riwayat Muslim, disebutkan:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِذَا تَـحَدَّثَ عَبْدِيْ بِأَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً ؛ فَأَنَا أَكْتُبُهَا لَهُ حَسَنَةً مَا لَـمْ يَعْمَلْ ، فَإِذَا عَمِلَهَا فَأَنَا أَكْتُبُهَا بِعَشْرِ أَمْثَالِـهَا ، وَإِذَا تَـحَدَّثَ بِأَنْ يَعْمَلَ سَيِّـئَةً ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَهُ مَا لَـمْ يَعْمَلْهَا ، فَإِذَا عَمِلَهَا فَأَنَا أَكْتُبُهَا لَهُ بِمِثْلِهَا. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَتِ الْـمَلَائِكَةُ : رَبِّ ، ذَاكَ عَبْدُكَ يُرِيْدُ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً (وَهُوَ أَبْصَرُ بِهِ) فقَالَ : اُرْقُبُوْهُ ، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ بِمِثْلِهَا ، وَإِنْ تَرَكَهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ حَسَنَةً ، إِنَّمَـا تَرَكَهَا مِنْ جَرَّايَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِـهَا إِلَـى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ، وَكُلُّ سَيِّـئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِمِثْلِهَا حَتَّى يَلْقَى اللهَ.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ’Jika hamba-Ku berniat mengerjakan kebaikan, maka Aku menuliskan baginya satu kebaikan selagi ia tidak mengerjakannya. Jika ia sudah mengerjakannya, Aku menuliskan baginya sepuluh kali kebaikannya itu. Jika ia berniat mengerjakan kesalahan, maka Aku mengampuninya selagi ia tidak mengerjakannya. Jika ia sudah mengerjakan kesalahan tersebut, maka Aku menulisnya sebagai satu kesalahan yang sama.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Para malaikat berkata, ’Wahai Rabb-ku, itu hamba-Mu ingin mengerjakan kesalahan –Dia lebih tahu tentang hamba-Nya-.’ Allâh berfirman, ’Pantaulah dia. Jika ia mengerjakan kesalahan tersebut, tulislah sebagai satu kesalahan yang sama untuknya. Jika ia meninggalkan kesalahan tersebut, tulislah sebagai kebaikan untuknya, karena ia meninggalkan kesalahan tersebut karena takut kepada-Ku.’” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dikerjakannya ditulis dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat dan setiap kesalahan yang dikerjakannya ditulis dengan satu kesalahan yang sama hingga ia bertemu Allâh.”[2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ : اَلْـحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِـهَا إِلَـى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ ، فَإِنَّهُ لِـيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِـيْ...

Setiap perbuatan anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Kecuali puasa, karena ia milik-Ku dan Aku yang membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku ...’”[3]

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :

يَقُوْلُ اللهُ : مَنْ جَاءَ بِالْـحَسَنَةِ ، فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِـهَا وَ أَزِيْدُ ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ ، فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ، أَوْ أَغْفِرُ.

Allâh berfirman, ‘Barangsiapa mengerjakan kebaikan, ia berhak atas sepuluh kebaikan yang sama dan Aku tambahkan (kebaikan kepadanya). Dan barangsiapa mengerjakan kesalahan, balasannya ialah kesalahan yang sama atau Aku mengampuninya.’” [4]

Dan dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda :

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، لَـمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا ، كُتِبَتْ سَيِّـئَةً وَاحِدَةً.

Barangsiapa menginginkan kebaikan kemudian tidak mengerjakannya, maka satu kebaikan ditulis untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, maka sepuluh kebaikan ditulis baginya. Dan barangsiapa menginginkan kesalahan kemudian tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis apa-apa baginya. Jika ia mengerjakan kesalahan tersebut, maka ditulis satu kesalahan baginya.[5]

SYARAH HADITS :
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Wahai saudaraku –semoga Allâh memberikan petunjuk kepada kita semua-, lihatlah betapa sempurna kelemahlembutan Allâh Azza wa Jalla ! Renungilah untaian kalimat-kalimat ini. Sabda beliau : عِنْدَهُ (di sisi-Nya) mengisyaratkan perhatian Allâh terhadap amalan hamba. Kata : كَامِلَةً (sempurna) berfungsi sebagai penegas dan menunjukkan perhatian Allâh yang besar terhadapnya.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keburukan yang diniatkan oleh seorang hamba namun ditinggalkannya : كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً (Maka Allâh Azza wa Jalla mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna). Beliau menguatnya dengan kata "Kamilah" (sempurna). Sedangkan jika ia tetap melakukan keburukan itu, maka Allâh mencatatnya sebagai satu keburukan. Di sini, kecilnya balasan dikuatkan dengan kata "wahidah" (satu) bukan dengan kata "kaamilah"..”[6]

Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang penulisan kebaikan dan kesalahan, serta penulisan terhadap keinginan mengerjakan kebaikan dan kesalahan. Jadi, di sini ada empat point :

Pertama : Mengerjakan Kebaikan
Balasan kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali hingga tujuh ratus kali kebaikan bahkan sampai tak terhingga. Pelipatgandaan satu kebaikan menjadi sepuluh, berlaku bagi seluruh kebaikan. Ini ditunjukkan oleh firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, "Barangsiapa berbuat kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kali lipat amalnya.” (al-An’âm/6:160)

Adapun balasan yang lebih dari sepuluh kali lipat diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman, "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allâh seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allâh melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Maha luas, Maha Mengetahui.” (al-Baqarah/2:261)

Ayat ini menunjukkan bahwa infak di jalan Allâh dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat.

Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu , ia mengatakan, “Ada seseorang datang dengan membawa untanya yang sudah diberi tali kendali, kemudian orang itu mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Unta ini untuk berjuang di jalan Allâh.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat, engkau berhak mendapat unta sebanyak tujuh ratus ekor. Semuanya sudah diberi tanda.’”[7]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang firman Allâh dalam hadits Qudsi, “Kecuali puasa, karena ia milik-Ku dan Aku yang membalasnya,” menunjukkan bahwa pelipatgandaan pahala puasa tidak diketahui kecuali oleh Allâh Azza wa Jalla , karena puasa adalah sabar yang paling baik. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, "…Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (az-Zumar/39:10)

Pelipatgandaan balasan kebaikan menjadi lebih dari sepuluh itu sesuai dengan kwalitas keislaman seseorang. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan lain-lain. Balasan itu juga sesuai dengan keikhlasan, keunggulan suatu amalan dan kebutuhan.

Kedua : Mengerjakan Kejahatan Atau Keburukan
Satu keburukan ditulis satu keburukan tanpa dilipatgandakan, seperti firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, "…Dan barangsiapa berbuat kejahatan, maka dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizhalimi).” (al-An’âm/6:160)

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, ”Maka ditulis untuknya satu kesalahan,” menunjukkan bahwa kesalahan tidak dilipatgandakan. Namun terkadang sebuah kesalahan bisa menjadi besar disebabkan kehormatan waktu dan tempat perbuatan buruk itu dilakukan, seperti difirmankan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allâh ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allâh pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu...” (at-Taubah/9:36)

Tentang ayat di atas, Qatâdah rahimahullah menjelaskan, ”Ketahuilah ! Kezhaliman di bulan-bulan haram itu lebih besar dosanya daripada di bulan-bulan lainnya, kendati kezhaliman di setiap kondisi itu tetap besar, namun Allâh Subhanahu wa Ta’ala menganggap besar apa yang dikehendaki-Nya.”[8]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah ia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat (fusuq) dan bertengkar (dalam melakukan ibadah) haji...” [al-Baqarah/2:197]

Ibnu ’Umar Radhiyallahu anhuma berkata, ”Fusuq pada ayat di atas maksudnya melakukan perbuatan maksiat; baik dengan berburu atau lainnya (di tanah haram-red).”[9] Dalam kesempatan lain, Ibnu ’Umar Radhiyallahu anhuma juga menjelaskan, ”Fusuq maksudnya melakukan perbuatan maksiat di tanah haram (Makkah).”[10]

Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, "…Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya (masjidil Haram-red), niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” [al-Hajj/22:25]

Banyak shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berusaha tidak tinggal di tanah haram (Makkah) karena khawatir berbuat dosa di sana, misalnya, Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dan ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Hal yang sama dilakukan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Radhiyallahu anhu .

Sebuah kesalahan terkadang dilipatgandakan balasannya disebabkan pelakunya orang terpandang, banyak tahu tentang Allâh dan dekat kepada-Nya. Oleh karena itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengancam akan melipatgandakan balasan kemaksiatan jika dilakukan oleh para hamba pilihan-Nya, padahal Allâh Azza wa Jalla telah menjaga mereka dari kemaksiatan tersebut. Pemberian ancaman ini bertujuan untuk menampakkan betapa agung nikmat Allah Azza wa Jalla kepada mereka yang telah menjaga mereka dari berbagai berbuatan maksiat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscya engkau hampir saja condong kepada mereka, jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” [al-Isrâ'/17:74-75]

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan-perbuatan keji yang nyata, niscaya adzabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allâh. Dan barangsiapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mengerjakan kebaikan, niscaya Kami berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami sediakan rezeki yang mulia baginya. Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemahlembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” [al-Ahzâb/33:30-32]

‘Ali bin al-Husain rahimahullah menafsirkan bahwa keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Hâsyîm juga seperti istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kedekatan mereka dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [11]

Ketiga: Berniat Mengamalkan Kebaikan
Niat ini ditulis sebagai satu kebaikan sempurna, walaupun pelakunya tidak mengerjakannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbas c dan lain-lain. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , riwayatkan Muslim disebutkan :

إِذَا تَـحَدَّثَ عَبْدِيْ بِأَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً ؛ فَأَنَا أَكْتُبُهَا لَهُ حَسَنَةً مَا لَـمْ يَعْمَلْ

Jika hamba-Ku berniat ingin mengerjakan kebaikan, maka Aku menulis satu kebaikan baginya.

Zhahir hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tahadduts yaitu haditsunnafsi (niat) kuat yang disertai ambisi untuk beramal. Jadi, tidak hanya sekedar bisikan hati yang kemudian hilang tanpa semangat dan tekad untuk beramal.[12]

Jika niat sudah disertai perkataan dan usaha, maka balasan sudah pasti diraih dan orang itu sama seperti orang yang melakukan, seperti diriwayatkan dari Abu Kabsyah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda :

إِنَّمَـا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًـا فَهُوَ يَـتَّـقِيْ فِيْهِ رَبَّـهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْـهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ.وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًـا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِـّـيَّـةِ يَقُوْلُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ ، فَهُوَ بِنِـيَّـتِـهِ فَأَجْرُهُـمَـا سَوَاءٌ , وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَـخْبِطُ فِـي مَالِـهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِـيْـهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ للهِ فِـيْـهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ , وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْـهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْـهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَـا سَوَاءٌ

Sesungguhnya dunia hanyalah diberikan untuk empat orang : (pertama) hamba yang Allâh berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allâh dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan ia menyadari bahwa dalam harta itu ada hak Allâh. Inilah kedudukan paling baik (di sisi Allâh). (kedua) hamba yang Allâh berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama. (ketiga) hamba yang Allâh berikan harta namun tidak diberikan ilmu, lalu ia menggunakan hartanya sewenang-wenang tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Allâh dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allâh. Ini adalah kedudukan paling jelek (di sisi Allâh). Dan (keempat) hamba yang tidak Allâh berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, keduanya mendapatkan dosa yang sama.”[13]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ”Maka pahala keduanya sama,” maksudnya sama dalam hal ganjaran pokok (balasan niat-red) dan tidak sama dalam pelipatgandaan ganjaran. Karena pelipatgandaan balasan kebaikan hanya khusus diberikan bagi orang yang sudah mengerjakannya, bukan yang sekedar meniatkannya. Jika keduanya disamakan dalam segala hal, maka ini tidak sesuai dengan hadits-hadits yang ada. Ini juga ditunjukkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, "Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai udzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allâh dengan harta dan jiwanya. Allâh melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allâh menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allâh melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripadanya, serta ampunan dan rahmat. Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [an-Nisâ'/4:95-96]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma dan lain-lain mengatakan, ”Orang-orang yang duduk (tidak ikut perang) yang berbeda satu derajat dengan mujahidin ialah orang-orang yang tidak ikut perang karena mempunyai udzur, sedang orang-orang yang tidak ikut perang tanpa memiliki udzur berbeda banyak derajat dengan para mujahidin.”[14]

Keempat : Berniat Melakukan Keburukan, Tetapi Tidak Dikerjakan
Dalam hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma disebutkan bahwa orang yang berniat melakukan keburukan namun tidak dikerjakannya, maka itu ditulis sebagai satu kebaikan yang sempurna. Hal yang sama disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan lain-lain. Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan, ”Dia meninggalkan kesalahan tersebut karena takut kepada-Ku.” Ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dalam hadits itu ialah orang yang mampu mengerjakan kemaksiatan yang ia inginkan namun kemudian ia tinggalkan karena Allâh Azza wa Jalla . Untuk orang seperti ini, pasti dituliskan baginya sebagai kebaikan. Sebab, meninggalkan maksiat karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala merupakan amal shalih.

Adapun orang yang berniat mengerjakan maksiat kemudian meninggalkannya karena takut kepada manusia atau karena riya', maka ada yang berpandangan ia tetap disiksa. Karena mendahulukan takut kepada manusia daripada takut kepada Allâh itu hukumnya haram. Begitu juga bermaksud riya’. Jadi, jika seseorang meninggalkan maksiat karena riya’, ia tetap disiksa.

Adapun orang yang berusaha mengerjakan kemaksiatan dengan segenap tenaganya kemudian dihalang-halangi takdir, maka sejumlah ulama menyebutkan bahwa ia disiksa karenanya, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِأُمَّتِـيْ مَـا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ

Sesungguhnya Allâh memaafkan umatku dari keburukan yang mereka bisikkan ke jiwa mereka selagi mereka tidak mengucapkannya atau mengerjakannya.[16]

Barangsiapa berniat dan mengerahkan kemampuannya untuk mengerjakan kemaksiatan kemudian tidak mampu mengerjakannya, maka ia termasuk orang yang telah mengerjakannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا الْتَقَى الْـمُسْلِمَـانِ بِسَيْفَيْهِمَـا ، فَالْقَاتِلُ وَالْـمَقْتُوْلُ فِـي النَّارِ. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! هَذَا الْقَاتِلُ ، فَمَـا بَالُ الْـمَقْتُوْلُ ؟ قَالَ : إِنَّهُ كَانَ حَرِيْصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Jika dua orang muslim bertemu dengan pedang masing-masing, maka pembunuh dan yang terbunuh tempatnya di neraka.” Aku (Abu Bakrah) berkata, “Wahai Rasulullah ! Ini (berlaku) bagi pembunuh, bagaimana dengan orang yang dibunuh ?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya ia ingin sekali membunuh sahabatnya tersebut.”[17]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, “Selagi mereka tidak mengatakannya atau mengerjakannya,” menunjukkan bahwa orang yang berniat melakukan maksiat, jika ia sudah mengutarakan keinginnnya itu dengan lisan, berarti ia berdosa karena ia telah berlaku maksiat dengan salah satu organ tubuhnya, yaitu lidahnya. Ini juga diperkuat dengan hadits yang menjelaskan tentang orang yang berkata, “Seandainya aku mempunyai harta, aku pasti mengerjakan apa yang dikerjakan si fulan (yang bermaksiat kepada Allâh dengan hartanya),” kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kedua-duanya sama dalam dosa”

(Ada sebagian orang berpendapat bahwa dia tidak berdosa dengan sebab mengutarakan keinginan buruknya, selama maksiat yang diinginkan itu tidak berbentuk ucapan haram seperti ghibah, dusta dan lain sebagainya. Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا تَـحَدَّثَ عَبْدِيْ بِأَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً ؛ فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَهُ مَا لَـمْ يَعْمَلْ

Jika hamba-Ku berniat mengerjakan keburukan, maka Aku ampuni dia selama ia belum mengerjakannya

Pendapat ini tidak kuat, karena kalimat tahaddatsa dalam hadits itu maksudnya bisikan hati, bukan ucapan lidah. Ini untuk menggabungkan pengertian hadits ini dengan hadits, “Selagi ia tidak mengatakannya atau mengerjakannya.”

Hadits Abu Kabsyah di atas juga menegaskan hal ini [18] . Karena ucapan seseorang, “Seandainya aku mempunyai harta, aku pasti melakukan perbuatan maksiat dengannya seperti yang dikerjakan si fulan,” (ucapan ini) bukan bentuk maksiat yang diinginkan si pembicara. Dia baru mengutarakan bentuk maksiat yang ia inginkan, yaitu ingin menggunakan harta untuk maksiat, padahal ia tidak mempunyai harta sedikit pun. Jadi, mengungkapkan keinginan melakukan perbuatan maksiat itu diharamkan, bagaimana bisa dimaafkan ? mengatakan keinginan seperti itu diharamkan.)

Bagaimana Jika Niatnya Berbuat Maksiat Melemah ?
Jika niat seseorang hilang dan tekadnya melemah tanpa ada faktor dari dirinya, apakah ia tetap disiksa karena kemaksiatan yang ia inginkan itu atau tidak ? Dalam hal ada dua masalah :

Pertama, Jika keinginan untuk mengerjakan maksiat itu hanya berupa lintasan (bisikan jiwa) yang muncul tanpa digubris oleh pelakunya dan ia tidak membiarkannya dalam hatinya, bahkan ia membencinya dan berusaha menghindarinya, maka keinginan tersebut dimaafkan, tidak berdosa. Keinginan ini seperti waswas jelek yang pernah ditanyakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ صَرِيْحُ الْإِيْمَـانِ

Itulah hakikat iman[19]

Ketika Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :

وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ

“...Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allâh memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengadzab siapa yang Dia kehendaki...” (al-Baqarah/2:284), kaum muslimin merasa resah, karena mereka mengira bisikan-bisikan hati masuk dalam cakupan ayat di atas. Kemudian turunlah ayat sesudahnya, yang diantaranya yaitu firman Allâh Azza wa Jalla :

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

... Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya... [al-Baqarah/2:286]

Ayat ini menjelaskan, apa saja yang tidak sanggup mereka kerjakan maka mereka tidak akan dibebani dan tidak disiksa karenanya.

Kedua : Tekad kuat yang ada di jiwa, terus bergelora dan disenangi pelakunya. Ini juga terbagi ke dalam dua bagian :

1. Sesuatu yang secara khusus merupakan perbuatan hati, misalnya ragu-ragu tentang keesaan Allâh Azza wa Jalla , atau kenabian, atau hari kebangkitan, kekafiran, kemunafikan, atau meyakini ketidakbenaran keesaan Allâh, dan lain sebagainya. Seorang hamba disiksa karena ini semua, ia menjadi murtad, kafir atau munafik.

Tercakup dalam cakupan poin ini adalah seluruh kemaksiatan yang biasanya dikerjakan hati, misalnya mencintai apa saja yang dibenci Allâh, membenci apa saja yang dicintai-Nya, sombong, ujub, dengki, dan buruk sangka kepada seorang muslim tanpa alasan yang benar. Meski ini tidak menjadikannya kafir tapi ia telah melakukan dosa besar.

2. Hal-hal yang bukan termasuk perbuatan hati namun merupakan perbuatan organ-organ tubuh, misalnya zina, mencuri, minum minuman keras, membunuh, menuduh orang baik-baik melakukan zina, dan lain sebagainya jika seseorang terus menerus menginginkan perbuatan tersebut, bertekad mengerjakannya, namun pengaruhnya tidak terlihat sama sekali secara fisik, apakah dia berdosa ? Tentang ini, para Ulama terbagi dua pendapat :

Pendapat pertama, Orang tersebut disiksa. Ibnul Mubârak rahimahullah mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada Sufyân rahimahullah , "Apakah seseorang disiksa karena niat dan keinginannya?" Sufyân menjawab, "Jika keinginan tersebut sudah menjadi tekad, maka dia disiksa karenanya.”

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan ,"Pendapat ini dipilih oleh banyak Ulama ahli fiqih, Ulama hadits dan ahli kalam dari sahabat-sahabat kami dan yang lainnya. Mereka berhujjah dengan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, "...Ketahuilah bahwa Allâh mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya...” [al-Baqarah/2:235]

Dan firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, ""... Tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu...” [al-Baqarah/2:225]

Dan mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اَلْإِثْمُ مَا حَاكَ فِـيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Dosa ialah sesuatu yang menggelisahkan di hatimu dan engkau tidak suka hal itu diketahui orang [20]

Mereka menafsirkan kata haddatsa dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِأُمَّتِـيْ مَـا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ

“Sesungguhnya Allâh memaafkan umatku dari apa yang diinginkan jiwanya selagi ia tidak mengatakannya atau mengerjakannya,” dengan lintasan (bisikan) hati.

Mereka berkata, “Maksiat yang disenangi oleh seseorang dan tertanam dalam hati, maka itu termasuk usaha dan perbuatannya. Ia tidak dimaafkan.”

Di antara mereka ada yang berkata, “Di dunia, orang tersebut disiksa dengan kesedihan dan kegalauan.” Ada lagi yang mengatakan bahwa pada hari Kiamat, Allâh menghisabnya karena perbuatan tersebut kemudian memaafkannya. Jadi hukuman orang tersebut ialah dihisab.” Ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahua anhu dan ar-Rabi’ bin Anas Radhiyallahu anhu . Itu juga dipilih Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah . Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berhujjah dengan hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma tentang bisik-bisik. Beliau berkata, “Hadits tersebut tidak berlaku umum, berlaku bagi dosa-dosa yang tidak terlihat di dunia dan bukan waswas di dada.”

Pendapat kedua, orang yang berniat itu tidak disiksa sama sekali hanya karena niatnya. Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, "Pendapat ini dinisbatkan ke Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Ini pendapat Ibnu Hamid, salah seorang dari sahabat kami, karena berhujjah dengan keumuman hadits (diatas). Perkataan yang sama diriwayatkan al-Aufi dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu .

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Abbâs dalam riwayat Muslim, “Atau Allâh menghapusnya”, maksudnya, perbuatan dosa itu bisa saja ditulis sebagai satu kesalahan untuk pelakunya, atau bisa juga dengan sebab tertentu Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghapusnya dari siapa yang Dia kehendaki, misalnya dengan sebab istighfar, taubat, dan mengerjakan kebaikan-kebaikan.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah itu, “Dan tidak ada yang dibinasa kecuali orang yang binasa“, maksudnya, setelah Allâh Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan karunia-Nya yang besar dan rahmat-Nya yang luas dengan melipatgandakan balasan kebaikan serta memaafkan kesalahan, maka tidak ada yang binasa kecuali orang yang binasa, yang menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan, berani melakukan dosa-dosa, membenci dan menjauhi berbagai amal kebaikan.

FAIDAH-FAIDAH HADITS
1. Kesempurnaan ilmu Allâh Azza wa Jalla . Tidak ada sedikit pun di langit maupun di bumi atau yang lebih dari itu yang lepas dari jangkauan ilmu-Nya, dan tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya. Allâh mengetahui apa yang ada dalam hati manusia.

2. Di antara tugas malaikat adalah mencatat kebaikan dan keburukan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menugaskan malaikat yang mulia kepada setiap orang, mereka mengetahui dan mencatat apa yang dikerjakannya, Allâh Azza wa Jalla menghitungnya sedang mereka melupakannya.

3. Betapa rahmat Allâh itu sangat luas dan karunia-Nya sangat agung. Allâh Azza wa Jalla tidak melipatgandakan balasan bagi perbuatan buruk seorang hamba serta memaafkan keinginan berbuat jahat (selagi tidak dilaksanakan).

4. Penjelasan tentang karunia Allâh Azza wa Jalla terhadap ummat ini. Karena kalau bukan karena karunianya, maka tidak akan ada yang masuk Surga, sebab perbuatan dosanya lebih banyak daripada kebaikannya.

5. Memberikan semangat dan juga memberian ancaman merupakan metode mendidik terbaik.

6. Menetapkan perbuatan Allâh Azza wa Jalla .

7. Karena karunia dan keadilan Allâh Azza wa Jalla , pahala kebaikan dijadikan berlipat ganda , sedangkan kejelekan dosa tidak dilipatgandakan.

8. Memikirkan berbagai kebaikan menjadi sebab yang bisa mengantar seseorang mengerjakannya.

9. Mengingatkan dan menyadarkan diri sebelum berbuat keburukan dapat mencegah diri darinya.

10. Pengaruh niat dalam perbuatan dan akibatnya.

MARAAJI’:
1. Al-Qur'ânul Karîm dan terjemahnya.
2. Tafsîr ath-Thabari
3. Shahîh al-Bukhâri.
4. Shahîh Muslim.
5. Musnad Imam Ahmad.
6. Sunan Abu Dâwud.
7. Sunan at-Tirmidzi.
8. Sunan an-Nasâ'i.
9. Sunan Ibni Mâjah.
10. Shahiih Ibni Hibbân (at-Ta’lîqâtul Hisân).
11. Syarhus Sunnah lil Baghawi.
12. Mu’jamul Kabîr.
13. Kitâb al-Arba’în an-Nawawiyyah, karya Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi.
14. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Baajis.

Minggu, 12 April 2015

Doa dan Bacaan dalam Shalat


Alhamdulillah, saat waktu luang kali ini saya mengajak untuk belajar bersama tentang Bacaan dan Doa pada setiap Fase dalam Gerakan Shalat.

Berikut ini adalah terjemahan dari Bacaan dan Doanya:




  1. Takbiratul Ihram
    Allaahu' Akbar (Allah Maha Besar)
    • Doa Iftitah
      • Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila (Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang)
      • Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin (Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajah-Mu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan dan penyerahan diriku, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)
      • Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil 'aalamiin (Sesungguhnya shalatku dan ibadah qurbanku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam)
      • Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin (Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepada-Mu)
    • Surah Al-Fatihah (tentunya sangat jelas arti dan maknanya)
    • Surah lainnya dalam Al-Quran.

  2. Ruku'
    • Allaahu' Akbar (Allah Maha Besar)
    • Subhaana, rabbiyal, 'adzhiimi (Maha Suci, Tuhanku Yang Maha Agung) minimal di ulangi 3 kali dan dibolehkan untuk melebihkannya.

  3. I'tidal
    • Sami'allaahu, li, man, hamidahu (Mudah-mudahan Allah mendengar, kepada sesiapa yang memuji-Nya)
    • Rabbanaa, lakal, hamdu (Yaa Tuhan kami, bagi- Mu segala Puji)
    • Wa mil assamaawaati, wa mil al ardhi, wa mil a maa shikta, min shai in, ba'du (Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu dan sesudahnya)

  4. Sujud
    • Allaahu' Akbar (Allah Maha Besar)
    • Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdihi (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Luhur, dan aku memuji-Nya) minimal di ulangi 3 kali dan dibolehkan untuk melebihkannya.

  5. Duduk antara 2 Sujud
    • Allaahu' Akbar (Allah Maha Besar)
    • Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, wahdinii, wa 'aafinii, warzuqnii (Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rejeki kepadaku)

  6. Duduk Tasyahud Awal
    • Allaahu' Akbar (Allah Maha Besar)
    • Attahiyyaatul mubaarakaatus shalawaatut thayyibaatulillaah (Segala ucapan selamat adalah bagi Allah, dan kebahagiaan serta kebaikan)
    • Assalaamu' alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, dan beserta Rahmat Allah, dan berkat-Nya)
    • Assalaamu 'alayna wa 'alaa 'ibaadillaahis shaalihiin (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang soleh)
    • Asyhadu allaa ilaaha illallaah (Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah)
    • Wa asyhadu annaa muhammadar rasuulullaah (Dan aku bersaksi, bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya, dan Rasul-Nya)

  7. Duduk Tasyahud Akhir
    • Allaahu' Akbar (Allah Maha Besar)
    • mengulang kembali bacaan dari Duduk Tasyahud Awal lalu diteruskan dengan,
    • Allaahumma, shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa, aali muhammad (Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad)
    • Kamaa, shallayta, 'alaa ibrahiim, wa 'alaa, aali ibraahiim (Sebagaimana telah Engkau berikan kebahagiaan kepada Ibrahim, dan kepada keluarga Ibrahim)
    • Allaahumma, baarik, 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad (Ya Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad)
    • Kamaa, baarakta, 'ala ibraahiim, wa 'alaa, aali ibraahiiim (Sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim, dan kepada keluarga Ibrahim)
    • Fil 'aalamiina Innaka, hamiidummajiid (Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia)

  8. Doa dalam Ucapan Salam
    • Assalaamu' alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh (Salam sejahtera untukmu, Rahmat Allah dan berkat-Nya)




Semoga artikel ini dapat selalu mengingatkan saya agar lebih memaknai apa itu arti Shalat, selain juga yang utama adalah memenuhi Kewajiban dalam Rukun Islam yang Kedua. Dan sejujurnya saya tidak mau termasuk Pelaku Shalat yang hanya Menunaikan Kewajiban tanpa mengetahui tentang arti dan makna dari Bacaan serta Doa yang terucap dalam Shalat.

Wassalamu' alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh...

Jumat, 10 April 2015

Sunnatullah


Khutbah Idul Adha 2014, MERUBAH NASIB
Slide20
بسم الله الرحمن الرحيم
الله أكبر –9
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا . لااله إلا الله وحده . صدق وعده . ونصر عبده . وأعزجنده وهزم الأحزاب وحده . لااله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون .
الحمد لله , الحمد لله الذى نوّر قلوب العارفين , بمداومة الذكر فى كل وقت وحين .
أشهد أن لا إله إلا الله الملك الحقّ المبين , وأشهد أنّ سيّدنا محمّدا عبده ورسوله الصادق الوعد الأمين .
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد , نقطة الشرفاء الأنيباء و المرسلين وعلى آله وصحبه الأئمة فى دين الحقّ رسائر المهتدين من الأمم الاوّلين والأخرين .
أما بعد : فيا إخوان الكرام , عليكم بتقوى الله ربّ العلمين وازلفة الجنة للمتقين . اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون .
        قال الله تعالى في القران الكريم : وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا (البقرة 143)

Allahu Akbar x9 Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Tema yang akan disampaikan khotib dalam khutbah kali ini berjudul “Merubah Nasib” dalam arti meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik.
Mengetengahkan pesan penting dari Baginda Rasulillah Saw. kepada kita semua umatnya. Pesan mana yang mengandung peringatan keras, dimana ada satu golongan manusia yang digambarkan hidupnya menjadi terkucil dan terasing, merasakan kesendirian meski sedang dalam kebersamaan. Tiada perlindungan dan pertolongan, susah tanpa tahu sebabnya, sedih tanpa mengerti masalahnya. Jalan nampak gelap gulita, tidak tahu arah yang harus ditempuh, tidak ada solusi hidup dari masalah yang sedang dihadapi. Kalau berdoa, doanya tidak dikabulkan, kalau minta tolong, pertolongan-Nya tidak diturunkan. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Iman Ibnu Majah dan Iman Ibnu Hiban RA.:
 عن عائشة رضي الله عنها قالت :   دخل عليّ النبى صلى الله عليه وسلم. فعرفت فى وجهه أن قد حضره شىء . فتوضاء وما كلّم احدا. فلصقت بالحجرة استمع ما يقول . فقعد على المنبر , فحمد الله وأثنى عليه وقال:” يأيها الناس ان الله يقول لكم : مروا بالمعروف وانتهوا عن المنكر قبل أن تدعوا فلا اجيب لكم وتسألوني فلا اعطيكم وتستنصروني فلا أنصركم . فما زاد عليهن حتى نزل.
Dari A’isyah ra berkata : ”Nabi saw masuk kepadaku, aku lihat di wajahnya seakan telah terjadi sesuatu, kemudian Beliau mengambil wudhu’ menuju mimbar dan tidak berkata sedikitpun. Aku mendekat ke dinding mendengarkan apa yang akan disabdakan. Beliau duduk di mimbar, memuji kepada Allah dan mengagungkan-Nya seraya bersabda: ”Wahai manusia sungguh Allah berfirman kepada kalian: berbuatlah “amar ma’ruf dan nahi anil mungkar”, sebelum engkau berdo’a, do’amu tidak Aku kabulkan dan engkau meminta kepada-Ku, permintaanmu tidak Aku berikan dan engkau minta tolong kepada-Ku, pertolongan itu tidak Aku berikan. Baginda Nabi SAW tidak menambahkan lagi selain itu sampai beliau turun dari mimbar.
Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Jika orang tidak mau melaksanakan Amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka do’anya tidak dikabulkan, permintaannya tidak dipenuhi, kalau minta tolong, pertolongan dari-Nya tidak diturunkan.
Ya Allah, apakah benar ada orang berdo’a tapi do’anya tidak dikabulkan? Padahal Engkau berfirman:

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Apakah benar ada orang meminta, permintaannya tidak diperkenankan? Padahal Engkau berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Apakah bisa hal itu terjadi, padahal sungguh benar firman Allah dan sungguh benar sabda Rasulullah dan Allah sedikitpun tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.
Jika hal tersebut memang benar bisa terjadi? Terus apa yang harus dilakukan manusia ketika dia jauh dari Rahmat Allah?, ketika jauh dari lindungan dan pertolongan Allah. Bagaikan orang pulang kampung, di tengah kota yang luas, ketika didapati pintu-pintu sudah tertutup rapat, padahal suasana gelap dan mencekam, tentu orang tersebut akan tinggal dalam kebingungan, tidak ada tempat berlindung dari kedinginan dan ancaman bahaya.
Tidak hanya itu saja, bahkan hayalan yang menghantui pikiran terkadang datang lebih seram dari kenyataan. Karena kabel yang menghubungkan diri kepada unsur energi yang Maha Tangguh telah terputus, jaringan dan infrastuktur telah hancur, maka manusia akan tinggal sendiri dalam kebingungan, tidak ada pedoman, tidak ada pijakan. Jalan semakin suram, tidak ada kepercayaan diri, serba takut dan serba kuatir, akhirnya orang terjatuh dalam kegelapan dan terombang ambing oleh hayalan bahkan terkadang ilmu dan rasionalitas bisa menjelma menjadi harimau atau serigala yang senantiasa siap menerkam. Itulah gambaran orang yang hidupnya sengsara, karena enggan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, meski sedaif-daif iman.
Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Yang dimaksud “amar ma’ruf nahi anil mungkar” bukan hanya menganjurkan orang lain berbuat baik saja atau mencegah kemungkaran yang diperbuat orang lain saja, melainkan juga dan yang penting harus memulainya dari diri sendiri. Beramal bakti untuk meningkatkan kwalitas hidup menuju lebih baik, menjauhi keburukan yang bisa menjadikan diri terpuruk dalam kehinaan supaya hidup menjadi lebih sempurna baik secara kwalitas maupun kwantitas.
Telah berlaku kehendak Allah, menjadikan manusia sebagai kholifah-Nya di muka bumi. Telah berlaku sunnatullah, memberikan potensi kepada manusia sebagai penggerak dan sumberdaya alam. Baik dengan tenaga dan pikiran maupun perasaan manusia harus berkarya. Membangun sumber kehidupan. Merubah nasib menjadi lebih baik, bukan dalam arti merubah mati menjadi hidup, karena mati dan hidup merupakan mutlak takdir Allah, melainkan meningkatkan kapasitas hidup supaya bisa menjadi lebih baik dan lebih berkuwalitas.
Supaya kehidupan di muka bumi berjalan aktif dan dinamis, tidak monoton. Supaya ada gairah dan semangat, maka manusia harus bekerja, membangun cipta dan karya. Manusia yang membuat peraturan dan meletakkan undang-undang namun manusia juga sekaligus menjadi tenaga pelaksana, bahkan sebagai sutradara yang sekaligus aktornya, sampai batas yang sudah ditentukan baginya, dimana selama itu manusia mencurahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk memakmurkan segala sarana yang sudah disiapkan di sekelilingnya.
Allah Swt. memilih manusia sebagai sarana yang bekerja di muka bumi, hal tersebut merupakan ketetapan-Nya sejak alam semesta ini diciptakan. Atas dasar ketetapan itulah maka manusia dapat mengenali dan menguasai alam sekelilingnya, mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang tersembunyi di dalamnya, bahkan menguasai kunci-kunci rahasia bagi ahlinya untuk membuka simpul-simpul kehidupan yang mestinya dirahasiakan. Dengan ilmu dan urusan Allah pula manusia dapat mengenali Tuhannya dan menggapai apa-apa yang yang dijanjikan dan disediakan untuknya, bahkan menciptakan keajaiban bagi diri sendiri.
Sejak pertama kali ilmu pengetahuannya diajarkan kepada kepada manusia dan kemudahan–kemudahan alam semesta dibentangkan baginya, sampai manusia bisa menghasilkan anugerah Allah yang disediakan untuknya, semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan sistem atau sunnatullah yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala baginya. Itulah sistem distribusi rizki untuk manusia, baik rizki lahir maupun rizki batin. Sejak pertama kali diciptakan bersamaan penciptaan alam semesta, sistem tersebut tidak akan pernah dirobah selamanya kecuali manusia sendiri yang merobahnya. Manusia dengan usahanya berpotensi meningkatkan taraf hidupnya dari yang ada menjadi lebih baik dan lebih mulia, dari miskin menjadi kaya seperti dari lapar menjadi kenyang, itu jika dia mau, jika tidak maka selamanya manusia tidak akan menghasilkan apa-apa dalam hidupnya.
Sunnatullah tersebut telah menjadikan manusia ulet bekerja di muka bumi dan sekaligus berlaku sebagai sarana untuk memperteguh pekerjaan. Sunnahtullah itu sebagaimana yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (الرعد.13
Allah tidak merobah keadaan suatu bangsa sehingga bangsa itu sendiri yang merobah dirinya.
Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Allah SWT. yang Maha Kuasa dengan sendiri-Nya telah menciptakan dan mengatur kehidupan langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya sesuai kehendak-Nya dan sesuai kehendak-Nya pula menjadikan manusia sebagai unsur yang bergerak di dalamnya dengan membawa jiwa dan raga yang membuahkan akal, pikiran, amal dan perasaan.
Bukankah manusia dari asal kejadiannya, daging dan tulang dan bahkan dasar peri laku dalam menjalani kehidupan di muka bumi identik dengan kehidupan binatang melata …?, akan tetapi dengan takdir Allah manusia mendapat kemuliaan sebagai kholifah-Nya di muka bumi, sebagai unsur penggerak yang bekerja di dalam roda kehidupan yang memang tercipta sesuai tabiatnya. Manusia yang harus berbuat, bekerja dan berusaha. Manusia tidak boleh hanya tinggal diam dan membeku saja.
Mengingat dasar itulah, hendaklah manusia melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, beriman dan berberamal sholeh, bahkan tidak hanya menganjurkan saja, manusia harus mampu menerapkannya dalam hidupnya sendiri, jika itu dilakukan, maka manusia benar-benar akan menjadi sebaik-baik ummat, demikianlah yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.(QS.Ali Imran 110)
Selanjutnya manusia diperintah, kalau melihat kemungkaran hendaklah ia merobahnya dengan tangannya kalau tidak mampu maka dengan lisannya dan kalau tidak mampu juga maka dengan hatinya walaupun itu adalah sedaif-daif iman.
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Kebajikan atau kejahatan bukan bermakna sempit. Bukan sesuatu yang hanya bisa terjadi dalam suatu kejadian atau di suatu lokasi di belahan bumi saja. Segala urusan manusia, besar maupun kecil, bisa dilakukan sebagai kebajikan atau kejahatan. Oleh karenanya manusia harus cermat mengikuti irama kehidupan, mencermati segala proses yang terjadi dengan arif dan bijaksana, memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan benar dan tepat, menegakkan kebajikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran, kalau tidak, maka manusia sendiri yang akan menanggung akibat buruknya, yaitu kerusakan dan kehancuran. Ini adalah sunnahtullah yang tidak akan pernah berobah lagi, berlaku sunnah pula, menurut dasarnya, bahwa hendaklah manusia menganjurkan kebajikan dan mencegah kemungkaran.
Meskipun segala pilihan dan langkah hidup akan membawa dampak dan konsekwensi, namun demikian manusia juga merupakan satu-satunya sarana untuk mengatur dan memilih langkah dan pilihan tersebut. Apabila manusia memilih beriman dan beramal sholeh, menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran, maka kebathilan tidak akan hidup subur dan berkepanjangan dan yang hak akan menjadi pemenang, memimpin dan menguasai kebajikan.
Akan tetapi manakala yang terjadi sebaliknya, manusia hanya tinggal diam saja, tidak ada kepedulian kepada alam sekitarnya, mereka tidur dari tugas suci, tidak menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Kesibukan manusia hanya melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan urusan lahir saja, sebatas urusan yang berkaitan antara perut dan pusat saja, maka kejahatan akan tumbuh subur, kemungkaran akan merajalela di mana-mana yang akhirnya kemaksiatan akan menguasai dan memimpin kehidupan yang ada, demikianlah yang berlaku sunnah dalam sejarah kehidupan manusia sebelum kita yang kemudian menjadikan penyebab hancurnya suatu generasi dan suku bangsa.
Jika keadaan umat mau hidup sadar, saling memperhatikan urusan masyarakatnya, menunaikan segala hak dan kewajibannya, saling mencukupi segala kebutuhan dan kekurangan, mengisi kekosongan, meningkatkan yang sudah ada, meluruskan yang bengkok, memelihara kelapangan dan mengusahakan kemudahan, menggapai pertolongan, menggalang kebersamaan, maka itulah umat yang bahagia dan jaya. Untuk itulah secara individu manusia harus kuat, berusaha sungguh-sungguh menggapai keutamaan yang disiapkan Allah baginya, menjadi pemberi bukan penerima. Adapun umat yang lalai dan malas bekerja, tidak ada kepedulian kepada alam sekitarnya, maka itulah umat yang celaka yang telah dihinggapi penyakit kehinaan.
Menurut sunnahtullah, manusia yang harus mengadakan perobahan, merubah kuwalitas hidupnya menjadi lebih baik, hal itu bukan berarti Allah SWT. tidak sanggup berbuat banyak kepada hamba-Nya, melaikan itulah ketetapan-Nya. Allah telah membangun hukum sebab akibat, supaya menusia mau beramal, mau berusaha menggapai kemuliaan yang memang diperuntukkan untuknya, untuk menduduki derajat yang mulia disisi-Robb-Nya, menjadi kholifah Allah dimuka bumi ini. Manakala manusia tidak menempatkan dirinya pada kedudukan mulia tersebut, maka akan terlepas dari derajat kemuliaan dan terjerumus dalam kehinaan sebagai derajat binatang melata bahkan lebih hina lagi darinya.
Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Mana mungkin orang berdo’a dapat dikabulkan tanpa bekerja? Mana mungkin orang bisa mendapatkan hasil hanya dengan berpangku tangan saja tanpa usaha ??. Padahal Allah telah menegaskan dengan firman-Nya: “Manusia akan mendapatkan sesuai apa yang telah diusahakannya”.
Sekarang jalan lurus sudah dibentangkan. Kemudahan-kemudahan hidup, pertolongan dan pemberian, hanya bisa didapatkan dari jalan itu, karena melalui jalan itu berarti manusia memegang janji Allah yang tidak pernah teringkarkan, karena Allah sedikitpun tidak akan mengingkari janji-Nya.
Siapa yang ingin memperoleh kemenangan hendaklah menghadapkan dirinya kepada Pemberi kemenangan yang sudah mengajarkan kepadanya suatu konsep yang simpel dan sederhana akan tetapi membawa ma’na yang strategis dan universal, konsep itu ialah : HENDAKLAH KAMU MELAKSANAKAN AMAR MA’RUF NAHI ANIL MUNGKAR dalam arti merubah nasib menjadi lebih baik dan lebih mulia.
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Jika kita mau mengambil pelajaran dari fenomena kehidupan di sekitar kita. Terlebih dunia perpolitikan di negeri ini. Secara khusus apa yang kita lihat dalam pelaksanaan Pemilu dan Pilprse 2014 yang barusan diadakan. Betapa kita telah melihat tumpang tindihnya sistem kehidupan. Masing-masing pelaku politik hanya mengedepankan kepentingan pribadi atau golongannya saja, bukan kepentingan rakyat sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan dalam pencitraan. Hingga segala cara seakan menjadi halal dilakukan. Semakin tidak jelas mana yang baik mana yang buruk karena masing-masing mereka merasa benar sendiri bahkan tidak segan-segan dibumbui kemunafikan.
Orang loncat dari partai sana ke partai sini sudah menjadi bukan barang tabu, tidak hanya jadi bajing loncat, bahkan gaja loncat malah seakan menjadi kebanggaan. Tidak sadar bahwa hal tersebut menunjukkan kemerosatan moralitas dan kehancuran integritas. Sehingga orang awam semakin sulit membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang tuntunan dan mana yang tontonan, semua dicampur aduk menjadi satu asal kepentingan bisa terpenuhi. Norma-norma Agama sepertinya sudah dihilangkan dalam kehidupan mereka, bahkan menjadi pesakitan KPK karena menggarong uang rakyat menjadi tren yang dibanggakan, meski harus mendekam selama hidup dipenjara seakan menjadi tujuan utama, padahal jika yang demikian itu berlanjut apalagi sampai dibudayakan, maka menurut sunnatullah kehidupan mereka akan menjadi hancur berantakan. Itulah kenyatan yang kita lihat dan kita rasakan namun kita tidak mampu berbuata apa untuk membuat perubahan.
Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.
Marilah kita mengadakan perenungan ke dalam, bukan melamun berkepanjangan tapi berharap ada uang jatuh dari kayangan, atau mendapat harta karun dari kuburan yang dikeramatkan, melainkan perenungan dalam rangka persiapan mengadakan perbaikan hidup di mana pun kita berada. Apakah kita hanya tinggal diam saja hanyut dan tenggelam di dalam arus ketidakpastian atau bangkit dari keterpurukan menuju kesuksesan hidup ? maka tidak bisa tidak, mulai sekarang kita harus memulai dari diri sendiri, kemudian anak istri dan keluarga terdekat, teman dan kerabat, untuk bersama-sama melaksanakan anjuran suci ini. Yakni melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, meningkatkan usaha untuk mencapai peningkatan hidup, saling berbagi dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebajikan.
Dimulai dari ucapan dan perbuatan supaya hati kita menjadi kuat dan yakin, itu dilakukan untuk melaksanakan pengabdian hakiki kepada Allah Robbul Alamiin, dengan itu semoga hari-hari kita kedepan semakin menjadi lebih baik, karena do’a-do’a yang kita panjatkan mendapatkan ijabah, disaat kita bermunajat kepada Allah, permohonan kita dikabulkan-Nya dan kalau kita minta pertolongan dari-Nya, pertolongan segera diturunkan, sehingga kita mampu mengadakan perubahan dan membangun keseimbangan hidup, meningkatkan taraf hidup baik secara ilmiyah maupun amaliyah, meski hanya untuk diri sendiri dan jama’ah, menjadi komunitas yang kuat karena dekat dengan lindungan dan pertolongan Allah Tuhan Semesta Alam, …. amiin ya mujibas sa’iliin.
قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون :   لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم . ثم رددناه أسفل سافلين . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون .
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم .
       وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

Share this:

TANDA-TANDA LEMAHNYA YAKIN

1. TANDA-TANDA LEMAHNYA YAKIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAB 1, TANDA-TANDA LEMAHNYA YAKIN
مِنْ عَلَامَاتِ الإعْتِمَادِ عَلى العَمَالِ نُقْصَانُ الرّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزََّللِ
 “Tanda-tanda bergantung kepada amal, kurangnya pengharapan ketika terjadi lemahnya amal”.
Sebagai seorang hamba Allah SWT, manusia wajib mengabdi kepada-Nya, karena untuk itulah ia diciptakan. Pengabdian itu harus dijadikan sebagai landasan segala aktifitas kehidup­an di jalan-Nya. Supaya pengabdian itu bisa berjalan dengan baik, maka manusia harus melandasi pengabdiannya dengan dua sifat; Pertama sifat raja’ atau berharap dan kedua sifat khauf atau takut. Allah SWT yang mengajarkannya dalam firmanNya:
Allah SWT berfirman: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, – dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”.  (QS. Al-Hijr; 15/49-50)
Ayat diatas menyatakan dengan tegas, bahwa kedua sifat tersebut harus diterapkan manusia dalam hidupnya secara seimbang, tidak boleh berat sebelah. Maksudnya manusia tidak boleh menggantungkan harapan dan menyandar­kan rasa takut kecuali hanya kepada Allah SWT.
Sifat raja’ diperlukan agar manusia tidak terjerumus ke dalam lembah putus asa. Karena sebesar apapun dosa seorang hamba, pengampunan Allah kepada yang dikehenda­ki-Nya lebih besar dan lebih luas tak terhingga.  Sedangkan dengan sifat khauf dimaksudkan agar seorang hamba tidak sembrono dan tidak mudah lepas kontrol. Sebab, sekecil apapun dosa yang sudah diperbuat, oleh karena tidak ada seorangpun yang pernah mengadakan perjanjian dengan Allah SWT sehingga mendapatkan jaminan dimasukkan ke surga, maka tidak ada jaminan bagi seseorang untuk selamat dari dosa yang sudah diperbuatnya.
Amal Batin Adalah Buah Amal Lahir   
Amal ibadah lahir, baik shalat, puasa, zakat shadaqah, dzikir, fikir, mujahadah maupun riyadlah, apabila dilaksanakan dengan benar, semata-mata mengharapkan ridla Allah, akan membuahkan amal batin yakni ketakwaan di dalam hati dan keyakinan kepada Allah. Jika amaliyah tersebut dapat dilaksanakan secara istiqamah, sehingga iman dan yakin semakin meningkat, maka seorang hamba akan mendapatkan ma’rifatullah, yakni mengenal kepada Allah SWT.
Yang demikian itu telah disimpulkan Allah dalam suatu ayat tentang “hikmah yang terkandung” dalam perintah ibadah puasa di bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS.Al-Baqoroh(2); 183).
Maksudnya, ibadah puasa, seperti juga ibadah-ibadah vertikal yang lainnya, apabila dilaksanakan dengan dasar iman serta semata-mata hanya menjalankan perintah-Nya, akan membentuk manusia menjadi seorang hamba yang bertakwa, artinya ibadah fertikal merupakan sarana latihan bagi manusia agar karakternya bisa berubah menjadi lebih baik. Manakala hikmah terbesar “puasa” bisa menjadikan seorang hamba bertakwa kepada Tuhannya, maka dengan ayat ini dapat disimpulkan bahwa amal lahir, apabila dilaksanakan dengan benar dapat membuahkan amal batin yaitu ma’rifatullah.
Namun demikian, apabila tumbuhnya kekuatan yakin atau ma’rifat itu selalu berkaitan dengan amalan lahir, dan ketika suatu saat amal lahir itu sedang lemah menjadikan keyakinan atau ma’rifatnya lemah, sehingga pengharapan kepada Allah menjadi lemah pula, maka melemahnya pengharapan kepada Allah itu merupakan tanda bahwa sesungguhnya orang tersebut hakekatnya belum bertawakkal kepada Allah, melainkan baru bertawakkal kepada amal ibadahnya. Akibatnya, ketika ia sedang jauh dari amaliyah yang di jalani itu, ia kembali akan kehilangan kepercayaan diri lagi.
Oleh karena itu, hati seorang hamba harus selalu siap menghadapi kepastian takdir-Nya, baik dalam keadaan sedang jalan wiridnya maupun tidak. Seorang SALIK harus siap di dalam hatinya, bahwa selain yang keluar dari kehendaknya (irodah) sendiri, pasti itu adalah kehendak Tuhannya. Untuk itu, apapun bentuknya—yang terjadi di dalam realita dan dari siapapun datangnya—kalau kehendak Tuhan sudah datang di hadapannya, seorang hamba yang ber-ma’rifat akan sanggup menyongsong realita tersebut dengan hati selamat. Mereka mampu berprasangka baik (husnudh-dhon), walau sedang dihadapkan dengan kematian sekalipun.
Jadi, istiqamah itu bukan hanya dalam amal perbuatan lahir dan wirid-wirid khusus saja, namun juga dan yang utama itu adalah istiqamah hati. Yakni, dalam keadaan yang bagaimanapun, baik sedang wirid maupun tidak, hatinya tetap hanya bersandar kepada Allah. Berharap dan takut hanya kepada “pemeliharaan” Sang Pemelihara Alam Semesta: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allahkemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah I kepadamu”. (QS. Fush Shilat; 30)

Sabtu, 04 April 2015

Kumpulan Ceramah Agama Islam Gratis (MP3)

ico
Kumpulan Ceramah Islam MP3 yang dapat di download gratis (free). Kajian.Net adalah situs koleksi audio pengajian MP3 ceramah Agama Islam berbahasa Indonesia terlengkap dari Ustadz-Ustadz Ahlussunnah Wal Jamaah. Download juga berbagai audio bacaan doa, dzikir dan hadits berformat mp3, serta software islami dan eBook kitab-kitab para ulama besar. Website Kajian.Net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan MP3 ceramah Islam terlengkap untuk memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush sholeh.

Ceramah Agama MP3 Download Gratis Kumpulan File Download Doa MP3 Software Islami Aplikasi Agama Islam Download eBook, Kitab Ulama, Artikel Agama Islam Gratis / Free

Audio Ceramah MP3 (Pengajian)

Video Ceramah

Software Islami

eBook, Kitab & Artikel

Hadist-Hadits Masalah dan Hukum Agama Islam Download Gratis MP3 Murottal Al-Quran, Koran, Qur'an
Download Gratis MP3 Murottal Al-Quran, Koran, Qur'an

Hadits-Hadist

MP3 Murottal Al-Quran

Doa & Dzikir



Mau Pahala ? Pasang Banner Kajian.Net di Situs dan Web Blog Anda!

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu).

“Demi Allah! Jika Allah memberikan hidayah (kepada) seseorang dengan perantara dakwahmu, itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah*” (Hadits shahih, riwayat Bukhari & Muslim)

KUMPULAN KULTUM/CERAMAH RAMADHAN | ORANG YANG DIJANJIKAN SURGA

Label:


ORANG YANG DIJANJIKAN SURGA
seperti yang dikatakan oleh nabi muhammad S.A.W
"surga merindukan orang sebagai berikut" :
1.Orang yang membaca kitab AL-QURAN.
    "Siapa orang yang membaca sehuruf dari kitab Allah maka akan diberi kebahagiaan dan kebagusan"
2.Orang  yang merasa kepada lisannya (ucapannya) baik.
3.orang yang memberikan makanan kepada yang membutuhkan dan yang memberikannya akan mendapat ganjarannya.
4.orang yang puasa pada bulan Ramadhan/puasa (ahli puasa).

KUMPULAN CERAMAH SELENGKAPNYA BISA KLIK DISINI
silahkan bagi para blogger yang ingin mencgopy dan menyebarkan.jangan lupa sertakan link sumber halaman ini thanks,

Artikel Terkait: